Duta Bahasa Daerah, “Ewis dan Imannuel” Komitmen Kampanyekan Bahasa Daerah Lewat Media Sosial

Duta Bahasa (Imannuel dan Ewis) -IST

RTIKPAPUA.OR.ID – Tanah Papua dihuni oleh beragam suku adat istiadat. Pulau Papua terdiri dari 7 wilayah adat, yaitu Tabi, Saireri, Doberai, Bomberai, Anim Ha, La Pago dan Mee Pago dengan jumlah bahasa daerah adalah 372.

Hal itulah yang mendorong, Duta Bahasa Papua yang didaulat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Ewis Taime , 25 tahun dan Imannuel, 20 tahun, menyatakan komitmennya untuk mengkampanyekan bahasa daerah, sebagai salah satu upaya melestarikan bahasa, khususnya di daerah Papua. Komitmen ini disampaikan keduanya, karena bagi mereka bahasa merupakan salah satu elemen dan sarana penting sebagai pemersatu bangsa.

Komitmen ini disampaikan mereka usai mengikuti Upacara Kemerdekaan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mebdikbud) Muhadjir Effendy, di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), bersama seluruh Duta Bahasa dari setiap provinsi di Indonesia, Kamis (17/8/2017).

“Kami akan lakukan kampanye bahasa daerah dengan berbagai cara, salah satunya memanfaatkan internet dan media sosial (medsos) di era perkembangan teknologi ini,” kata Ewis yang merupakan lulusan Universitas Klabat Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Sementara Imannuel mengatakan, bahwa daerah Papua sendiri memiliki ratusan bahasa, namun tetap semua bisa berbahasa Indonesia.

“Menurut data Balai Bahasa pada 2016, jumlah bahasa daerah di Papua ada 372. Jadi tidak hanya satu saja,” ujar Imannuel.

Mereka juga mengaku, menjadi Duta Bahasa bukanlah hal mudah karena ada begitu banyak tahapan yang harus dilalui. Diantaranya, proses seleksi dengan uji kemahiran Bahasa Indonesia, membuat karya tulis ilmiah dan selanjutnya dipresentasikan.

Tidak hanya itu, seleksi juga meliputi wawancara mengenai pengetahuan Bahasa Indonesia dan Bahasa Papua. Kemudiam seleksi Duta Bahasa terakhir meliputi minat dan bakat.

Diakhir wawancara keduanya juga mencontohkan sebuah kalimat dari bahasa daerah, sebagai semboyan yang mencerminkan semangat persatuan di daerah tempat asal mereka masing-masing.

“Eme neme yaware, artinya bersatu, bersaudara, bangun Tanah Mimika,” kata Ewis.

“Hen tecahi yo onomi t’mar hanased, artinya satu hati membangun kota untuk kemuliaan Tuhan,” sambung Imannuel. (Vanny/berbagai sumber)